Selayang Gunung Manglayang

Sudah lama saya tidak menjelajah alam, tenggelam dalam SKS dan kesibukan dunia (alasan klise). Saya juga lama tidak menulis di blog ini, kebanyakan menulis di blogspot dan tumblr. Jadi tulisan ini merupakan awal lagi saya menjelajah dan menulis disini (semoga). Anda orang Bandung/Sumedang atau sedang tinggal di Bandung/Sumedang ? Tahu bangunan alam tinggi menjulang di belakang Jatinangor ? Itulah Gunung Manglayang, salah satu gunung yang ada di sekitar Bandung. Akses ke gunung ini dapat melalui Jatiangor, Batukuda, Cibiru bahkan Dago Pakar katanya. Saya mencoba melalui Jatinangor, masuk melalui buper dekat Unpad. Lalu mengikuti jalan hingga ke arah Barubeureum. Awal pendakian dimulai dari warung terakhir di Barubeureum yang bisa diakses. Ohya, total biaya sekitar 2000 rupiah untuk masuk buper dan 5000 rupiah untuk titip motor, itu jika Anda bawa motor. Kalau tidak bawa motor, bisa menyewa angkot dan lanjut jalan kaki menuju warung.

Gn. Manglayang (1.818 mdpl) ternyata tidak semudah yang dikira. Meskipun kalah jauh dari Gn. Ciremai (3.078 mdpl), tetapi track yang ditempuh sungguh menantang dan menguras fisik. Mendaki non-stop sekitar 1,5 jam dengan medan kemiringan 45-80 derajat ketinggian tanpa dataran sangat cocok untuk latihan fisik. Jalanan tanah licin, dengan rintangan akar dan batuan menambah kesulitan dan keasyikan di medan pendakian. Track yang ditempuh seperti jalur pendakian Ciremai dengan jarak tempuh yang lebih pendek. Saat mendaki sekitar setengah jam saja, sudah membuat keringat pendaki bercucuran dan mengatur nafas dan langkah lebih konstan dan teratur. Jalur ini bukan jalur main-main untuk ukuran gunung yang ‘pendek’, ini jalur sangat serius.

Image

Gn. Manglayang memiliki 3 puncak yang bukan berbentuk kawah. Puncak bayangan, puncak kedua dan puncak utama atau prisma. Puncak bayangan, dapat dilalui dari jalur memutar yang lain dari jalur menantang ini dari Barubeureum. Melewati jalur Barubeureum akan membawa Anda menuju puncak kedua setelah menempuh perjalanan menguras keringat, dan dengkul menghadapi batu tanjakan 80 derajat. Di puncak kedua, Anda dapat melihat cakrawala Bandung yang cukup indah, jika beruntung dapat mengamati kumpulan awan di Bandung. Ohya, di Gn. Manglayang ini dapat bertemu dengan satwa Elang yang terbang rendah menemani pendaki di puncak kedua. Puncak kedua ini berupa jurang, dengan tempat duduk seluas sekitar 3×8 meter. Banyak bekas tenda pendaki yang tidak mencintai alam, hanya menikmati saja.

Image

Setelah puas di puncak kedua, pendaki dapat melanjutkan menuju puncak prisma dengan waktu tempuh sekitar setengah jam non-stop, melewati jalur yang lebih ramah terhadap dengkul. Tanjakan yang ada sekitar 60 derajat, namun masih banyak ditemui area landai. Vegetasi tanaman mulai lebat dan lembab dibanding tanjakan Barubeureum. Tanah sedikit lapuk dan licin akibat runtuhan dedaunan pohon dan akar. Setelah mendaki sekian menit, pendaki akan disambut sebuah makam entah milik siapa, mungkin seorang pendekar, karena dikebumikan di puncak utama. Puncak ini berupa area sangat lapang, cocok untuk berkemah dan memang banyak ditemukan sisa para penikmat alam. Pemandangan disini tidak sebagus di puncak kedua, namun cukup dingin dan sejuk dengan vegetasi rimbun dan lembab. Namun tidak hanya itu, pendaki juga dapat mencoba menebas jalan hutan, bila ingin mencoba menjelajah area sekeliling puncak.

Image

Setelah puas dengan dua puncak (kedua dan prisma) pendaki dapat turun melalui 2 arah yang mudah dilihat, Barubeureum atau Batukuda. Batukuda akan turun di perkemahan Batukuda di Sumedang, sedangkan Barubeureum akan menemui jalan sebelumnya. Turun dari pendakian ini merupakan keasyikan tersendiri. Pendaki akan menuruni jalan terjal, sempit, licin dan berbatu serta berakar yang akan menyiksa dengkul lagi. Perjalanan turun dapat lebih cepat, sekitar 45 menit jika non-stop kembali. Namun, tidak berhenti disitu. Jalan yang licin membuat pendaki tidak bisa turun mudah, bahkan harus meluncur dari atas dengan lumpur kental, karena terjal dan licin. Kotor-kotor setelah pendakian dan penurunan, pendaki dapat melepas penat di sungai dengan air deras dan cukup jernih. Lumayan untuk membersihkan diri dan menyegarkan jiwa lagi.

Sebagai pendaki kami memiliki kode etik.
“Jangan ambil apapun, kecuali pengalaman.
Jangan tinggalkan apapun, kecuali jejak.
Jangan bunuh apapun, kecuali waktu”
Salam rimba.

Image

Advertisements
Selayang Gunung Manglayang

3 thoughts on “Selayang Gunung Manglayang

  1. keren is :
    Sebagai pendaki kami memiliki kode etik.
    “Jangan ambil apapun, kecuali pengalaman.
    Jangan tinggalkan apapun, kecuali jejak.
    Jangan bunuh apapun, kecuali waktu”
    Salam rimba.

  2. grwisata says:

    Salam kenal kaka, maaf kalo boleh mau tanya. Untuk jalur pendakian menuju puncak bayangan manglayang, kalo dari pintu masuk batu kuda lewat jalur mana. brapa lama estimasi perjalanannya ka. Makasih.

    1. Maaf baru buka blog lagi. Itu ambil jalur kiri, punggung gunung kalau normalnya. Tapi kalau aku ambil lurus, dari batu kudu. Belah hutannya. Ada jalur curam sih, sedikit..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s