Apa Itu Cantik?

Ini pertanyaan/pernyataan yang membuat saya dan jutaan wanita lainnya bingung. Iya, saya bingung setelah membaca buku “A Cat In My Eyes”-nya Fahd Djibran. Mengenai wanita dan kecantikan. Nah, saya pun akhirnya melakukan survei kecil-kecilan disini, tujuannya biar dapat gambaran ‘cantik’ itu apa sih sebenernya. Karena saya suka dengan cewek cantik, kalau gak berarti mungkin saya sedang goblok kata bang Iwan mah. Ini survey lama sekali, tahun 2013, tapi belum sempat saya olah. Karena kesibukan duniawi saya. Tulisan ini adalah tafsir saya atas hasil survei singkat tentang definisi cantik dari 130 responden. Hasil survei ini kerjasama saya dengan teman saya, Laras. Tulisan ini khusus untuk kalian wanita.

Hasil survei dan pembahasannyaa dapat dilihat di bit.ly/apaitucantik


Saya mempertanyakan lagi pengetahuanku tentang kata ‘cantik’. Apakah cantik itu adalah menarik ? Menarik atas dasar perilaku ketimbang fisik ? Pria-pria dalam survey ini tidak merasa kecantikan hanya dari pandangan, mereka justru lebih memilih perilaku dibanding tampak fisik. Namun mereka lebih memilih padanan kata, indah, sebagai pengganti kata cantik. Indah disini biasanya lebih ditujukan pada sesuatu yang tampak. Jadi, cantik apakah bisa dilepaskan dari atribut fisikal ? Sebuah inkonsistensi, pada prioritas dan fitur yang melekat pada kata cantik.

Cantik mengalir dalam setiap kebudayaan. Tafsir kecantikan pada tiap kebudayaannya berbeda, kecantikan memiliki standar tertentu pada jarak waktu dan tempat masyarakat penghuninya. Kecantikan pada Jawa kuno yang digambarkan pada beberapa kitab seperti Katurangganing, menggambarkan wanita yang masuk kategori cantik ada dua tipe, Estri Kencana dan Retna Kencana. Estri Kencana memiliki tubuh besar, kulit gelap (sawo matang mungkin), rambut lemas dan biasanya lemah lembut serta baik. Retna Kencana, memiliki kulit kuning, kaki kecil (betisnya mungkin ya), dan cenderung jujur serta setia. Namun saat ini di Jawa khususnya, cantik adalah yang memiliki standar kulit putih, rambut lurus dan paha mulus. Kita mendefinisikan cantik dengan patokan Korea, Amerika ataupun Eropa. Kita juga seringkali mengkotak-kotakkan cantik. Ada yang bilang ini cantik mojang Bandung banget, manis Jawa, ataupun putih Manado. Begitupun standar cantik di luar negeri sana. Cantik terbatas waktu dan tempat ?

Kita tak lepas dari persepsi komunal, meskipun sebagai individu bebas dengan opini dan persepsi sendiri. Saat kita di masyarakat, persepsi komunal lah yang dipegang. Mau tidak mau aku, kau, dan mereka melebur jadi kita. Masyarakat berkembang, selalu mencari definisi baru dari setiap hal. Barat dan timur saling mengejar definisi sendiri, utara selatan berlawanan. Kita menciptakan batasan-batasan baru, teori dan pengetahuan baru tentang kecantikan. Masyarakat belajar untuk mengkonsumsi kecantikan, harus menyediakan bentuk kecantikan macam apa. Cantik tak pernah berhenti untuk dieksplorasi. Sebuah jawaban atau pertanyaan atas zaman ? Bagiku, cantik, adalah pertanyaan sekaligus jawabannya. Tak perlu ada definisi cantik.

Pengetahuan dan teori hanya memberi batasan dan pemaksaan yang mengaburkan tentang kata ‘cantik’. Apakah cantik hanya pada fisik ? Manusia butuh eksistensi ketimbang esensi, kita mencari definisi dari yang tampak. Kita telah melakukan perbuatan keji dengan membatasi definisi cantik. Wanita tidak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan cantik pada dirinya sendiri. Tapi memang kita butuh pegangan, kita butuh wadah untuk menanam makna kecantikan. Entah wadah itu budaya, agama, ilmu sosial atau ilmu bahasa. Kita selalu mencari titik tolak dan titik temu dalam wadah definisi tersebut.

Masyarakat komunal pun membentuk wadah mereka sendiri. Mereka membentuk berbagai kontes kecantikan, menghimpun wanita yang menjadi objek dan menstandardisasi kecantikan. Kita terisap di dalamnya oleh media dan iklan. Kecantikan dikapitalisasi, bahwa untuk cantik Anda butuh produk A, butuh produk B dan harus seperti si C. Wanita menjadi objek standardisasi kecantikan dan objek kapitalisasi atasnya. Kita terjebak pada ruang-ruang bernama kulit putih, alis melengkung, bibir merah dan lain indah sebagainya. Wanita berkorban untuk memiliki bentuk-bentuk baku pada definisi cantik. Hingga hampir semua cewek korea tidak bisa saya bedakan. Lalu apakah menjadi cantik itu tak perlu hal-hal itu semua ? Atau semua wanita di dunia itu cantik pada definisi mereka sendiri ? Atau semua perempuan di dunia ini tidak cantik ? Karena tidak ada kesepakatan di dalamnya. Saya setuju kita sepakat untuk tidak sepakat tentang definisi cantik.

Karena ketidaksepakatan kita tersebut, saya mencoba menghindari memilah kecantikan pada yang tampak. Sebagai muslim juga seringkali saya dengar, pilihlah wanita atas agamanya dibanding kecantikannya, tapi ya kok ini berat sekali (naluriah lelaki mungkin) 😦 Alquran juga sudah paham betul tabiat manusia, dijanjikannya bidadari-bidadari Surga bagi yang sanggup mengikuti perintahNya. Kompensasinya bersifat yang kecantikan tampak eksistensial. Ah, manusia memang begitu adanya ya. Tetapi memang pada Alquran, yang dicari itu, wanita yang menjadi penyenang hati (Al-Furqan : 74). Nah ini, menarik. Kayaknya pada wadah Al-Quran, definisi cantik juga ada tentang fisik coba lihat (Al Munafiqun:4 & Al Ahzab:52). Tetapi saya lebih cocok dengan istilah ‘penyenang hati’. Bayangkan beratnya memiliki wanita yang super duper cantik secara fisik, Anda pasti tidak akan tenang bila jalan-jalan. Bisa jadi, dia akan menjadi pusat perhatian atau Anda jadi cibiran bagaimana bisa mendapatkannya. Apakah itu cukup menyenangkan hatimu ?

Maka demi diriku, cantik adalah jawaban dan pertanyaan itu sendiri. Setiap perempuan memiliki kecantikannya sendiri, mereka memiliki definisi mereka sendiri.

Maka demi kata-kata yang mengalir padamu, kini kau bebas dengan tafsirmu sendiri tentang cantik.

Advertisements
Apa Itu Cantik?

3 thoughts on “Apa Itu Cantik?

  1. […] satu responden sama dengan responden lain. Misalnya, Mas Anshor memahami–berdasar pada KBBI–kata “indah” lebih terkait pada penglihatan. Sedangkan saya (sebagai responden yang termasuk menggunakan kata indah) memahaminya tidak seperti […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s