Penyesalan Papandayan : ‘Puncak’

Setelah perjalanan menyenangkan di hari pertama Papandayan, kami menghabiskan malam lebih cepat di dalam tenda dan berencana bangun pagi buta. Tapi itu LEGENDA, bung.  Kami bangun jam 5 lebih, matahari sudah mulai naik. Gagal summit attack, kami memulai pagi dengan shalat subuh bersama dinginnya air di kompan semalam. Setelah sarapan pagi dan membereskan tenda, kami mulai bergegas melanjutkan perjalanan. Saat itu sekitar pukul 07.00, para penghuni tenda lain juga belum bersiap-siap berjalan. Jadi kami ‘pertama’ yang berangkat pagi itu nampaknya. Teman saya menyempatkan mengambil beberapa gambar indahnya ‘penghuni pagi’ dahulu.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh

Setelah ‘Pondok Salada’ kami diarahkan menuju ‘Hutan Mati’, ini awal yang buruk bagi perjalanan pagi kami. Mencari tanda menuju arah hutan tersebut saja kami bingung, entah karena masih pagi dan kami semua sedikit tidak sadar nampaknya. Memang tanda di Papandayan sudah dibuat rapih, tapi arahnya cukup meragukan. Kami seharusnya mengambil jalan memutar ke arah kiri melewati genangan air dan rumput tinggi, namun malah naik mengikuti arah sumber air. Jadilah kami naik ke bukit yang keliru, dari sumber mata air. Tanjakan berbatuan dan jalan licin menjadi sia-sia, ternyata tidak ada arah menuju atas lagi. Kami pun turun ulang dan kembali ke jalan yang benar. Karena saat sudah mencapai atas, kami bisa melihat hutan mati yang sebenarnya, jauh memutar dari arah yang kami daki -_-. Melewati genangan air cukup berhati-hati atas ‘ranjau’, dan akhirnya teman saya mendapat ‘ranjau’ sisa kotoran manusia yang telah berubah warna menjadi hijau -_-” . Perjalanan awal yang kurang mengenakkan, tapi itu semua dibarengi dengan pemandangan yang menggembirakan.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh

Perjalanan kami melewati semacam ‘padang’ edelweiss yang belum mekar. Saya sempat ragu benarkah ini padang edelweiss yang asli, karena saya lupa urutan jalur yang saya tahu dari info blog orang lain. Tetapi kami sendiri cukup senang melewati jalur ditemani bunga abadi tersebut. Perjalanan tidak berlangsung lama, sekitar 10 menit kami sudah akan mencapai hutan mati yang terlihat dari balik padang bunga ini. Sebelumnya akibat ‘tersasar’ kami membuang waktu lebih dari 30 menit.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh

Memasuki hutan mati, kesan pertama kami adalah ‘SubhanAllah’. Kami melihat hamparan luas batang kayu tanpa daun, dengan hulu batang seperti terbakar, kering dan tertanam pada tanah putih lembut. Tekstur tanah yang kami jejaki terasa aneh, dan batang pohon tersebut menjadi saksi letusan Papandayan pada 2002 yang membuat hutan mati tersebut.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh

Pada hamparan hutan mati itu, kami semacam melihat ‘puncak’ dan karena terlena oleh pemandangan alam disekitarnya, kami bergegas menuju arah tersebut. Saya juga teringat dengan informasi dari blog lain, menggambarkan pendakian puncak yang cukup ekstrim semacam yang saya lihat kemiringannya saat itu. Untuk diketahui di hutan mati tersebut, selain hamparan pohon mati, terdapat pula danau kecil, hamparan horison pandang luas dari Papandayan, pemandangan kawah dan lainnya yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Anda harus mencoba melihat sendiri dan yakin dengan ciptaanNya, Maha ArtistikNya menciptakan bumi, terlebih Indonesia.

Puas menikmati hamparan hutan mati, kami mencoba naik ke ‘puncak’ untuk mendapat pemandangan lebih. Jalur ini merupakan pendakian berbatu dan cukup miring, kami pun harus melepas beban ransel di tengah pendakian karena kemiringan yang cukup berbahaya bila membawa beban. Saat mendaki dengan kondisi ini juga kami harus mengambil jarak antar orang, karena bisa saja batu pijakan di atas kami terlepas dan meluncur ke bawah. Saat pendakian juga seringkali batu itu terpeleset, jadi memang harus berhati-hati. Itulah tantangan dan keasyikan sendiri mendaki ‘puncak’ ini.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh

Setelah sampai pada ujung, kami dapat melihat hamparan pemandangan yang benar-benar mengagumkan. Kami dapat melihat congkaknya Ciremai berdiri di depan cakrawala kami dikelilingi gumpalan awan. Lalu kami juga dapat melihat hamparan kawah Papandayan yang terus mengepulkan asap belerang tinggi ke angkasa.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh

Puas melihat-lihat pemandangan di ‘puncak’, kami berencana langsung turun, karena mengejar waktu sampai Bandung sebelum ashar. Kali ini karena kami malas memutar lagi melewati Pondok Salada dll, kami melihat ‘jalan’ turun dari ujung hutan mati. Jalan ini nampaknya jarang digunakan untuk mendaki dari arah pos. Karena ujung turunan ini langsung bertemu dengan jalur kawah belerang. Jalur ini memang curam dan berbatu, cukup berbahaya.

Foto oleh @mnsaepulloh
Foto oleh @mnsaepulloh
Tim JP selesai syuting
Tim JP selesai syuting

Nah saat kami turun, kami bertemu dengan rombongan ‘Jejak Petualang’ yang baru selesai syuting. Jadi kami turun bersama mereka, tapi sayang tak sempat foto bareng -_-. Nah saat perjalanan turun ini kami menemukan suatu kebenaran pahit juga yang membuat saya menyesal 🙂

Penyesalan Papandayan : ‘Puncak’