Tukang Tekel

Tadi saya lagi melamun, terus tiba-tiba nulis ini. Ini adalah ‘tribute’ saya untuk pemain bertahan yang menjadi panutan saya dalam urusan persepakbolaan. Meskipun saya bukan pemain bola handal, apalagi profesional. Tetapi selayaknya masyarakat Indonesia, bisa gak bisa ya harus senang main bola biar hidup riang gembira. Saya juga bukan pengamat sepakbola, cukup sebagai penonton dan ‘komentator’ absolut. Manusia Indonesia sangat mudah berkomentar, tetapi enggan untuk berkaca. Makanya ‘The Comment’ laku di TV 🙂

Sedikit bercerita, saya waktu kecil ikut SSB hanya untuk menyalurkan aktivitas saja yang ‘overactive‘ waktu dulu. Mungkin orang tua saya tak berpikir saya menjadi pemain bola profesional, padahal kan gajinya gede kalau sekarang. Seneng-seneng di lapangan, gaji gede, paling cuma patah kaki dan cedera serius aja jaminannya :v. Selayaknya anak kecil, senang bermain bola jadi penyerang atau playmaker. Karena ya itu, bikin gol dan jadi idola. Tetapi saya ‘kecewa’ di SSB ditaruh di bek sayap dan gelandang bertahan, tidak sesuai harapan. Namun semua berubah setelah kenal beberapa pemain ini : Andreas Brehme dan Nemanja Vidic.

Sebagai Interisti, saya mencari role model pemain bertahan, terutama bek sayap. Karena biar merasa keren saja..haha. Bermodalkan buku/majalah khusus Inter Milan dari ‘Soccer’ waktu zaman SMP. Awalnya saya melihat Javier Zanetti, yang begitu berkharisma, bertenaga dan santun. Beliau ‘Il Traktore’ adalah bek kanan terbaik Internazionale yang pernah ada. Lalu ada G.Fachetti, bek kiri Inter yang berjaya dan mengubah gaya sepakbola Italia tahun 60an. Namun saya berhenti pada sosok Andreas Brehme, pemain Jerman dekade 90an. Pemain ini sungguh unik bagi saya, karena dia fasih di dua kakinya :).Brehme jago mengumpan dengan kaki kanan, tapi menendang keras dengan kaki kiri. Dia bermain sebagai bek kiri, bek sayap, bahkan sayap kiri. Ini kebetulan sekali cocok dengan saya yang selalu di bek sayap. Saya tak jago mengumpan dan menendang tepat sasaran, waktu itu saya cuma bisa main kaki kanan. Lalu saya sempat cedera ‘ankle‘ kiri, harus diikat karet selama setahun. Padahal masa SMP itu masa enak-enaknya bermain bola kan ? Istirahat sekolah, pulang sekolah, bolos pelajaran, pasti ke lapangan bola, anak-anak SMP saya main bola. Entah main bola atau kerusuhan disana, satu bola dikejar puluhan orang. Sungguh sangat kolosal kalau dikenang. Bagi yang hidup di tahun 2003-2005 di SMPN 1 Cirebon, pasti tahu rasanya bermain bola di lapangan itu :).

Dengan cedera itu, saya tak ada penopang di kaki kiri untuk menendang dengan kaki kanan. Jadilah saya mengikuti Brehme, kalau menendang pelan dengan kaki kanan, tapi untuk menendang keras dengan kaki kiri. Brehme ini sosok luar biasa, penentu kemenangan Jerman di final piala dunia 1990, juara di klubnya. Penempatan posisi dia, lugas dan tadi keahlian dua kakinya. Pemain yang komplit sebagai posisi sayap. Meskipun tidak lincah seperti Bale di zamannya. Pemain bertahan paling penting adalah membaca gerak bola dan menjaga posisinya.

SMP ke SMA, masih saya bermain bola untuk riang gembira. Lalu saya mulai bermain lebih bertahan dan ‘kasar’. Karena saya pikir itu seru saat bermain bola, harus lari menekel, mengganggu pemain lawan. Padahal intinya mah saya tidak punya kemampuan bermain bola, tidak pandai dribel, gocek, sundul, umpan dan menendang, apalagi jadi kiper. Cuma punya nekat dan stamina yang lumayan. Jadilah saya ‘tukang bersih-bersih’ di lapangan, ada bola ke daerah berbahaya, dibuang. Ada pemain lawan, ditempel terus buang bolanya, atau tekel lawannya. Lalu saya kenal Nemanja Vidic, bek MU(waktu dulu) yang sangat lugas. Dia pandai mengatur garis bertahan, bertarung di belakang dan lugas.

Ada perkataan dia membuat saya berbesar hati (haha)

“I am a defender. I don’t have skills! My skills are to take the ball from the opponents and this is what I do best.” – Vidic.

Sampai ke kuliah, pedoman itu yang saya pegang kalau diajak main bola. Pokoknya tugas pemain bertahan ya itu saja. Pemain bertahan selain pintar membaca gerak bola, ya harus lugas dalam mengamankan areanya. Menjaga posisi dan mengatur garis pertahanan. Memberi tekanan pada pemain lawan. Sementara saat kuliah, suka diajak main futsal untuk senang-senang saja, karena tidak jago untuk main serius. Permainan bertahan seperti dulu tidak bisa diterapkan, di futsal tidak boleh ada ‘slide tackle’, padahal itu serunya bola, menekel 😦

Sepakbola modern saat ini, kembali lagi ke zaman dahulu untuk pemain bertahan. Pemain bertahan saat ini harus bisa membangun serangan juga dari belakang. Dengan populernya tiki-taka, serangan dimulai dari belakang. Pemain dengan tipe ‘libero’, kembali jadi sorotan. Kemampuan bek dan gelandang bertahan yang jadi satu, visi permainan dan kelugasan bek. Akhirnya saya belajar bahwa bek juga ada tugas membangun serangan, bukan hanya sebagai tambahan pemain saat tim maju ke depan.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari zaman kecil hingga sekarang di posisi bertahan. Pemain bertahan harus pintar membaca arah bola, telat sedikit saja bisa ketinggalan sprint dengan pemain lawan. Meskipun tidak berpostur tinggi, pemain bertahan dengan kemampuan ini sangat berguna, seperti F. Cannavarro. Pemain bertahan harus menempel lawannya atau jaga posisi, ini sungguh rumit. Saat kita mengawasi pemain lawan, tapi harus jaga posisi kita jangan sampai lowong. Jangan seperti David Luiz, suka lupa posisi. Pemain bertahan harus punya stamina, karena tugasnya ngejer pemain dan jemput bola. Inilah jagonya ‘Bapak Pembangunan’ kita, Carles Puyol. Pemain bertahan saat ini juga harus punya visi dalam menyerang, karena serangan balik cepat dan posession football ngetren. Pemain macam Matt Hummels lah ini jagonya. Menarik mengamati perkembangan tugas pemain bertahan di sepakbola saat ini. Salam tekel !

Advertisements
Tukang Tekel