Memilih Pak Bimbang

“Eh, kalian nyoblos gak ?”

“Wah, saya bingung pilih yang mana. Nggak tahu calonnya mana aja”

“Saya pilih yang kelihatannya lebih baik diantara yang lain”

“Saya sih milih yang paling religius”

“Ah, milih tidak milih sama saja”

Pemilu, semoga bukan berasal dari kata ‘pilu’ yang diberi imbuhan ‘pe-’. Acara 5 tahunan yang katanya pesta demokrasi ini memang benar-benar pesta. Seperti halnya pesta, ‘dekorasi’ ada dimana-mana. Sudut-sudut desa, tiang listrik kota, layar kaca, hingga petak dunia maya pun warna-warni atribut partai. Kita disuguhi berbagai wajah, topeng, dasamuka dan sejenisnya. Tampang mereka ada dimana-mana, baik sekali hingga memudahkan kita mengenal wajah mereka saja. Artis dan band pun kalah pemasarannya. Kuntilanak pun kalah, pohonnya dipasang foto yang menakuti dia. Fenomenanya mungkin lebih banyak wajah caleg dibanding artis ibukota tertempel, apalagi artis-artis banting stir menjadi caleg. Berkuranglah jumlah artis, dibanding caleg. Padahal yang enak di mata, ya cuma artis saja. Maklum, caleg lebih memakai isi kepala katanya, dibanding nyaringnya suara saat rapat kerja atau manisnya wajah kalau mengunjungi warga. Hari itu, saya berkumpul dengan teman-teman saya awalnya berceletuk akan memilih siapa. Ternyata belum pada punya pilihan. Wong cewek saja tidak ada pilihan, apalagi caleg. Sesuram ini ternyata hidup kita.

Teman saya satu ada yang bingung dengan alasan jelas (bingung kok jelas, aneh). Dia berkata bahwa kita tidak tahu mungkin sebenar-benarnya si Anu, si Itu atau si Fulan ini seperti apa. Kita cuma dijejali lipatan senyum dan rekahnya wajah mereka. Selebaran berisi janji dan tambahan uang saku buat kita sehari-hari. Sungguh caleg itu anti-dunia, royal sekali mereka mengeluarkan dana. Kalaupun ada pemikiran kita yang memfitnah dalam hati, mereka akan gila bila tak jadi terpilih, mengeruk dana untuk balik modal, itu bisa jadi salah. Tetapi bisa juga benar, saking baik hatinya mereka (red:caleg), mereka pun membuktikan dugaan kita itu nanti, agar kita terhindar dari dosa memfitnah. Atas dasar ketidaktahuan kita, akhirnya kita terhindar dari berburuk sangka dan iri hati. Bagi kaum dengan akses informasi, mungkin lebih mudah mencari tahu si Anu/Itu/Fulan itu siapa dan mengenalnya. Nah, orang-orang lain yang gak punya akses ? Siapa yang memberitahu mereka semua ? Kita mikir buat makan saja repot, masih ditambah mikirin mau coblos siapa. Lalu, sebenarnya yang butuh siapa ? Kalau memang kita yang butuh, kita pasti dengan susah payah mau mencari, kalau dia yang butuh, maka dia yang susah payah harusnya mengenalkan ke kita. Kalau sekarang teman saya lihat, kita ini pada status butuh pun tidak, tidak butuh pun segan. Nah sekarang, lebih banyak terlihat siapa yang butuh ? Kita dijejali dengan banyak pilihan, dan kita sendiri bingung memilih yang mana. Tah eta manusia.

Teman saya satu lagi ini masih punya waktu untuk mencari informasi caleg pilihannya yang lebih baik diantara lainnya. Rajin membuka internet, mengumpulkan selebaran/kaos, atau ikut jamaah pengajian RT-nya yang kebetulan diisi oleh beberapa caleg. Oh, mereka juga mengemban misi dakwah yang mulia. Teman saya juga katanya lebih memilih caleg yang dia kenal, atas dasar persaudaraan, pertemanan ataupun keagamaan. Mungkin lebih tahu, dan itu lebih baik sih, daripada memilih seorang yang tidak kita ketahui. Karena kita tidak tahu mereka benar-benar, saking banyaknya bro. Teman saya ini juga dengan senang hati menceritakan caleg mana yang baik dan memilihkannya, ini nih kurator caleg. Baguslah akhirnya ada juga teman yang baik seperti ini. Tapi saya sempat memotong, lalu bila yang baik itu ada sedikit, dibanding yang buruk, apakah berpengaruh ? Menurut Tragedy of Commons, pada awalnya calon pilihan kita bisa bersikap baik dan ideal. Tetapi lingkungan dan sistemnya melakukan hal sebaliknya, bisa jadi dia malah ikut-ikutan.

“Satu orang melakukan kecurangan, yang lain merasa “berhak” ikut berbuat curang. One misguided exploiter can crash the system. Greed is contagious, indeed.” – Nofieiman

Selain itu adapula tipuan psikologis, Social Loafing. Mungkin bisa menjelaskan fenomena ini, dengan banyak orang malah seakan seseorang melepas tanggung jawab dan merasa tidak perlu bersusah payah. Apalagi kalau isinya ternyata sudah jelek, ya ini mungkin yang membuat raport anggota DPR berwarna-warni. Jadi kata saya pada dia, carilah seseorang pendobrak yang aneh, mahiwal, unik dan memang bukan cetakan pasaran. Biar tidak mudah dibentuk ulang oleh sistem yang ada.

Lain halnya dengan teman saya satu ini yang religius, dia selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap gerak-gerik langkah pilihan hidupnya. Katanya kita ini cuma tahu sedikit dari banyaknya informasi yang ada. Kita tidak tahu mana yang benar, benar-benar benar atau yang benar-benar tidak benar. Pilihan kita terakhir ya dengan meminta pertolonganNya untuk menunjukkan pilihan yang benar. Benar juga sih dia, kita jarang menghadirkan Tuhan dalam hal-hal pemilu ini. Kampanye jarang di tempat ibadah, padahal kan kalau di tempat ibadah, caleg tidak dapat berbohong. Loh dia kan berkata di rumah Tuhan, masa iya dia berani berbohong. Kita juga sebagai pemilih harusnya mendekatkan diri pada Tuhan, masa iya kita selalu berdoa kepada Tuhan untuk hal-hal mengenai diri sendiri. Tetapi tidak meminta petunjuk Tuhan atas nasib jutaan rakyat Indonesia lainnya. Jadi teman saya yang religius dan kebetulan muslim itu mengajak kita shalat istikharah meminta petunjuk sebelum menyoblos. Dia juga berkata, kita tidak berhak menghakimi masa lalu seseorang yang buruk, masa depannya juga pasti buruk.

“Orang suci pun mungkin memiliki masa lalu kelam dan orang buruk mungkin memilliki masa depan cerah” – Duh Lupa Siapa

Mungkin saja yang kita lihat baik ini ternyata buruk, dan mungkin saja yang terlihat buruk ini tahunya baik. Tuh kan, kita saja tidak tahu pasti. Senjata utama umat yang beragama adalah pasrah pada Tuhan, setelah capek berusaha.

Teman saya yang lain punya pendapat berbeda, dia sudah tak bergairah dari awal. Caleg sekarang ini adalah 90% dari legislatif sekarang ini. Lanjut dia, saat ini saja kita sudah cukup kecewa dengan kinerja mereka. Padahal katanya mereka itu wakil rakyat, jadi secara susunan kata, seharusnya ‘rakyat’ lebih tinggi dari ‘wakil’nya toh. Hebat benar orang yang ingin turun jabatan dari rakyat hanya menjadi wakil saja. Hanya orang-orang dengan kebesaran hati dan penuh pengorbanan saja yang mau menjadi ‘wakil’nya rakyat. Setidaknya bisa mewakili kesejahteraan rakyat, kebebasan bicara rakyat dan hak-hak rakyat lainnya.

“Rakyat adalah suara Tuhan yang jadi bisu karena diambil suaranya waktu Pemilu” – Pidibaiq

Jadi teman saya ini memilih untuk tidak memilih. Berwasiat dia, kalau lebih banyak suara yang tidak diberikan, apakah tidak aneh bagi mereka ? Tapi kata saya, memang pedulikah mereka dengan jumlah suara ? Kata dia lagi, dia bukannya apatis, tapi ya mengambil posisi untuk tidak percaya lagi dan bersuara dengan mogok mencoblos. Memang aneh teman saya itu. Mungkin pikirnya bila ada Hari Mogok Coblos Nasional (Moconas), bisa ada revolusi secara damai.

Jangan jadi bisu

Akhirnya obrolan kita itu semua cuma mengering di kepala. Esok hari kita sudah lupa, siapa yang kita pilih kemarin. Maklum saja kita ini sudah amnesia akut, maka timbul gerakan #menolakLupa dan sejenisnya. Bagi saya, semua orang bebas berpendapat dan memilih siapapun, tidak memilih juga itu pilihan. Paling penting, semua bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing dan tidak memaksakan pilihan. Mungkin pendapat mereka ada benarnya, mungkin juga pendapat kita ada salahnya. Mari kita coblos saja, mau Anda coblos salah satu atau semuanya terserah pilihan Anda. Amankan kertas suara biar dana triliunan itu tidak terbuang percuma, kapan lagi coba bisa nusuk-nusuk nama orang…haha

“Silence is the enemy. Against your urgency” – Green Day (Know Your Enemy)

Ini ada tulisan yang bisa dibaca buat menghilangkan penat saat mau memilih

[1], [2], [3]

Advertisements
Memilih Pak Bimbang