Fenomena Syahwat dan Prostitusi Kekinian

Saya tak ingin berbicara mengenai peringatan Isra Mi’raj yang ramai di negara ini di bulan kelima 2015, orang membicarakan cara membaca Al-Quran yang tak lazim. Membicarakan sesuatu yang diri sendiri jarang membacanya, Al-Qur’an, bukanlah pilihan bijak untuk berkomentar. Tapi tak apa, dengan adanya ini ramai, Al-Qur’an kembali diperbincangkan dibanding disimpan dalam lemari. Bukan kapasitas saya membahas itu, biar orang alim yang berdebat masalah nyaring tidaknya bacaan itu. Saya ingin bicara tentang naluri dasar manusia, seksual.

Akhir-akhir ini ramai lagi kasus jual beli syahwat, mulai dari tingkat kos-kosan hingga bintang-bintangan. Masih ingat kasus Tata Chubby ? Atau yang terbaru tentang kasus  RA dan AA. Ini bukan hal aneh, dari zaman Plato main kelereng juga permainan syahwat ini sudah ada dan berevolusi medium transaksinya. Saat ini medium sudah sangat memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Kemudahan informasi membuatnya jadi viral. Kayaknya justru peran media bicara praktik ini malah membuat orang-orang mencari dan penasaran. Apakah kesulitan mencari hal ini ? Gak juga sih, bukan rahasia umum lagi. Tapi hukum positif terlalu kaku dibanding hukum norma atau adat. Apa cukup prostitusi/lokalisasi dilegalkan jadi bisa diatur hukum positif ?

Kenapa legalisasi lokalisasi jadi masalah ?

Mari kita singkirkan prasangka positif, kita bicara dalam konteks agama. Bagi yang muslim mungkin sudah paham untuk mencari nafkah dengan halal, tapi bagaimana kalau kepepet ? Apa gak ada jalan lain ? Ini alasan klise, saya ingin kita jauhkan lagi perspektifnya. Andaikan sebuah kota melegalkan ‘nafkah’ panas ini, pemasukannya jadi gak berkah. Hasilnya akan masuk dalam pencernaan anggaran kota, mengalir dalam darah-darah pembangunan, menjadikan dialektika masyarakat tak berkah ? Orang-orang tua kita padahal menasehati kita untuk menjaga nafkah halal, jangan sampai anak-anak kita memakan harta haram. Lah ini setingkat kota/negara pakai yang haram, luar biasa. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan semrawutnya kota tak usai ? Bagaimana dalam hukum positif ? Ini saya kurang paham, tapi siapa yang patut disalahkan ? Konsumen, Distributor atau Produsen (PSK) ? Saat ini kasus banyak menjerat distributor, mereka didakwa melakukan perdagangan manusia. Bagaimana dengan konsumen atau produsen ? Mereka terjerat KUHP yang mana ? (Mungkin teman-teman bisa beritahu saya, saya lupa kalau saya tidak tahu).

Seperti prinsip ekonomi, ada permintaan ada penawaran. Selama permintaan tinggi, penawaran akan mengimbangi. Saat terjadi shortage/kemacetan penawaran, maka harga akan naik, tapi kalau lancar, harga akan turun bersaing. Mungkin ini alasan juga lokalisasi tidak mau dilegalkan, bagi pelaku industrinya sendiri ? Karena intinya keasyikannya justru karena ini ilegal, harga tidak diatur pasar terbuka. Coba kalau legalisasi, ada harga eceran tertinggi mungkin. Produsen industri syahwat ini juga mungkin awalnya karena kebutuhan, lihat pelakunya rata-rata dari kawasan kemisikinan. Tetapi kok sekarang permainannya di kalangan atas ? Mereka berkecukupan, tapi masih butuh ? Ada dua jenis prostitusi, prostitution by need dan prostitution by greed. Kalangan atas ini karena tuntutan sosialitanya, menjadi kebutuhan, tetapi mungkin juga karena tarif yang tinggi, ketamakannya tak memberikan rem bagi syahwatnya pula. Begitu pula konsumennya, awalnya yang karena kebutuhan, akhirnya harus ‘jajan’ sembarangan. Tapi karena punya banyak uang, jadi ingin menjajal semua ‘lahan’. There’s always greed after needs fulfilled, ceuk aing mah.

“Every motivation that makes a person do something can be classified under ‘survival’, ‘social life’ or ‘entertainment’. As a result, progress is defined as reaching a higher category; that is, not doing a thing merely for survival, but for social reasons, and then, even better, just for fun.” – Linus Torvalds’ Law

Kalangan Atas

Lihat lagi kasus AA & RA ini, 80 juta rupiah ? Wow, duit sebesar itu sensasinya hanya buat ngetes ‘artis’ ? Kalau saya mah mending buat nikah, lumayan resepsinya lebih dari cukup sih. Tapi benarkah tarifnya segitu gedenya ? Bahkan banyak beredar daftar harga artis dan inisialnya yang belum bisa diurutkan ‘perawi’ harganya shahih atau tidak. Daftar itu sebenarnya sudah ada dari lama bahkan katanya, tapi booming lagi sekarang. Saya justru ragu itu bisa jadi permainan pasar, biar naikin harga lapak sebelah (mari skeptis, demi menurunkan harga pasar..haha). Peran mucikari tak bisa dilepaskan untuk kasus kalangan atas ini, perlu ada pengecekan pembeli yang potensial. Bisnis ini ada pada niche market, kecil namun putaran uangnya besar. Siapa coba buang-buang duit segede itu cuma buat 3-5 jam saja. Orang-orang yang sudah tak butuh duit mungkin. Lalu motivasi artis apa ? Ya saya tak tahu, innamal ‘amalu bin niat, segala amal perbuatan tergantung niat, bahkan untuk amal yang kurang elok ini. Ada yang niatnya ngisi waktu luang mungkin, lagi sepi job, ada yang butuh tambahan, bisa jadi ada pula yang jadi mata-mata. Ya karena pelanggannya katanya kalangan atas dan pejabat, bisa jadi dia agen rahasia untuk mengorek informasi atau permainan politik, seperti di film Sherlock Holmes episode “A Scandal in Belgravia”.

Kalangan Menengah dan Jalanan

Mari kita turun ke kelas menengah, biasanya ini diisi oleh wanita-wanita muda gesit nan lincah usia 20an. Biasanya subjeknya mahasiswi atau karyawati. Ini menarik, karena model bisnisnya baru, lewat media sosial bung. Disini ada inovasi, dimana peran mucikari dipotong, produsen langsung ke konsumen. Memanfaatkan media sosial, bisa menjangkau konsumen dengan mudah dan produsen bisa langsung cek konsumen di jaringan komunikasi lain, tinggal bermain SOP saja. Produsen layaknya memiliki ketangguhan entrepreneurship untuk menembus pasar disini. Paparan pasar lebih luas, secara medsos gitu. Tetapi belajar dari kasus Tata Chubby di Tebet, ternyata konsumennya beringas. Keamanan produsen rawan, karena konsumen tidak melalui filtering mucikari. Ya resiko pekerjaan. Beda lagi dengan permainan di jalanan, yang ‘umum’ kita temui di sudut lipatan kota. Sisi-sisi kelam kota yang kita tutup mata ini, tak pernah hilang bagaimanapun juga. Ada saja pasarnya, untuk kalangan dengan kocek secukupnya. Pemainnya juga variatif umurnya, ada yang baru menapaki karir atau sudah di usia senja. Karena entry barrier disini rendah, persaingannya luar biasa. Siapa bilang profesi ini mudah, mereka juga dituntut untuk selalu inovasi dalam produknya, meskipun itu-itu saja yang dijual. Masalah di jalanan ini lebih dekat dengan prostitution by need, karena kalau by greed, tentu saja mereka sudah naik level ke menengah atau atas. Mereka ini yang selalu disebut dalam sajak-sajak sastrawan, sebut saja Rendra ataupun Emha. Mereka ini korban stigma dan marjinalitas katanya. Mereka yang senantiasa bermandi keringat dan api, untuk setiap harinya.

Sungguh saya tak ingin berbicara vulgar dan semena-mena dalam tulisan ini. Tetapi saya gelisah dengan permasalahan ini. Ini berita lama yang diputar-putar itu saja. Saya justru khawatir blow up media ini justru hanya membuka informasi tanpa solusi. Membacalah saya pada bab pertama ‘Super Freakonomics’, membahas hal serupa yang terjadi di Amerika, penelitian di Chicago. Sangat menarik, mereka melakukan penelitian langsung pada subjeknya dan membandingkan data. Mungkin perlu kita tiru disini, kita tidak bisa menyebutkan permasalahan kalau kita tidak tahu datanya. Mungkin perlu kita lakukan SPXXX (Survey Pelaku XXX), tak perlu sampai tahap sensus. Cukup kita ambil sampelnya saja, kan kita punya BPS yang bicara data dan statistik di nasional. Kita perlu tahu berapa kira-kira jumlah pekerjanya, berapa rata-rata jam kerjanya, jam kerja per kalangan atas/menengah/jalanan, waktu puncak dan persebaran wilayahnya, tingkat jumlah permintaan, umur rata-rata pelaku, status sosial/pekerjaan sebelumnya. Apakah benar ada penurunan permintaan ? Karena melihat tren seks bebas, ‘cost’ yang perlu dibayar bagi pencari nafsu bahkan bisa gratis. Seharusnya ini menekan jumlah permintaan ‘layanan berbayar’ ? Ya sekasar-kasarnya inilah bahasa saya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Mari kita berani. Salam hari senin harga naik !

“tak sepenuhnya salah mereka, kita juga memiliki saham atas alpa mereka. Itulah kebenaran yang kita buang dalam pekatnya malam.” – ans4175

Advertisements
Fenomena Syahwat dan Prostitusi Kekinian