Piknik Urban : Sabtu Woles

Wow, hallo manusia kota !

Baru saja saya baca tulisanmu, saya sendiri agak lupa isi-isi buku Mas Seno itu, tapi itu bukan kitab omong kosong. Mas Seno menceritakan catatan harian Homo Jakartensis, warga kota Jakarta. Iya, katanya mungkin benar begitu adanya. Tak ada bedanya dengan hari biasa, bahkan bisa jadi lebih parah. Bertemu kembali dengan kemacetan dan deru klakson yang semakin bertaburan di akhir pekan.

Ada dua tipe keluarga di Jakarta: tipe petualang dan tipe anti ribet

Haha, jadi itulah penyebab Bandung diinvasi penduduk Jakarta di akhir pekan ya? Berebut Mall atau bosan? Pada kota itu terlatih hiburan ada di pusat perbelanjaan. Mall-mall adalah pusat peradaban dan kemajuan zaman. Maka dicarilah kemana saja. Pada Mall, tentu saja bisa kita temukan tanda-tanda modernitas, baju dengan tren kekinian. Begitu pula kebutuhan utama manusia, sandang, pangan, papan dan colokan. Tak apa lah membuang-buang uang, karena kita akan cari lagi besoknya kan. Tapi tidak mencari ditempat dibuangnya itu, aneh!

Akhir pekan ini, saya melarikan diri dari Bandung. Beredar kabar Bandung akan sangat ramai karena perayaan dimana-mana. Memang benar, tingkat kebahagiaan disini tinggi. Perayaan selalu, dimana-mana, kapan saja. Selalu saja ada cara untuk merayakan akhir pekan. Maka saya perlu merayakannya di tempat lain. Cirebon!

Saya melarikan diri dari kehidupan urban yang begitu cepat. Kehidupan yang mendidik saya menjadi serba sibuk. Kita terjebak rutinitas 24 jam yang kita bagi untuk diri sendiri di kantor, rumah dan kendaraan, sambil mengeluh tentang individualitas dan waktu mepet. Sedangkan disini di Cirebon sangat santai, jalanannya masih woles. Saya bisa menempuh jarak 10KM hanya dalam 15 menit, kalau di Bandung mungkin 3 kali lipat waktunya.

Itu lihat jalan raya antar kota dan dalam kotanya.
Itu lihat jalan raya antar kota dan dalam kotanya.

Ya, lengang tapi sebelum malam minggu, karena sama saja di belahan dunia manapun kayaknya, penuh perayaan kalau malam, kecuali hutan. Saya habiskan akhir pekan dengan mengulang kenangan Cirebon, pada teman dan bangunan. Disini ada Masjid Merah Panjunan namanya, masjid dengan atap rendah. Konon katanya dahulu itu di pesisir pantai. Tapi sekarang pantainya sudah geser, 4KM lah.

Masjid Merah Panjunan
Masjid Merah Panjunan

Lalu jalanan nostalgia, lewat sini serasa jadul. Hampir setiap kota sepertinya punya nuansa ini, pertokoan dengan bangunan semi kuno.

Jalanan Antik
Jalanan Antik

Lalu tentu saja, saya harus ke pusat peradaban urban. Biar bisa melihat kemajuan zaman. Ternyata isinya sama saja dari masa ke masa, manusia. Hanya beda bajunya saja.

Ramai
Ramai

Tapi menarik, mall di Cirebon ini didatangi dari seantero wilayah III. Indramayu, Majalengka, Kuningan bahkan Tegal masyarakatnya ke mall Cirebon. Berarti disana gak ada ya? Ah, dimana saja akhir pekan sepertinya sama saja kalau dihabiskan di pusat peradaban belanja. Sepertinya kita butuh hiburan baru? Apa katamu?

“What is the city, but its people?” – W. Shakespeare

Cirebon, 24 Oktober 2015

Advertisements
Piknik Urban : Sabtu Woles