Piknik Urban : Tamasya Kota

Lama tidak ada kabar orang Jakarta, apalagi yang di Bandung.  Saya akhirnya bertemu mereka lagi di jalanan akhir pekan. Dari kabarmu itu, saya pikir seru juga bercengkrama di rumah siapa gitu akhir pekan. Tapi saya sudah minggu lalu :). Wahaha, ibu-ibu arisan dari ngobrolin keluarga sendiri, hingga keluarga orang lain. Mungkin kalau mereka arisan sambil ngomongin filsafat, seru juga. Tapi memang arisan sekarang jadi ajang pamer-pameran ya? Ini arisan apa pameran seni memperkaya diri? Tapi intinya tetap silaturahim, menjaga tali pertemanan.

Sesuai perkataan saya sebelumnya, saya akan keliling kota berjalan kaki. Pada hari itu tepat sekali dengan acara anak-anak Arsitektur ITB, “Gaung Bandung“. Tepat pula temanya tentang pejalan kaki dan “kota lama” Bandung. Semesta berkonspirasi memaksa saya berjalan kaki sepertinya. Jadi sekalian saja saya kesana.

“…mengenalkan kawasan Kota Lama Bandung sebagai sebuah potensi kawasan perkotaan yang ramah bagi para pejalan kaki” – Mba Budi (Panitia)

Acara tersebut sebenarnya semacam pameran hasil sayembara tentang inovasi dalam upaya peningkatan daya tarik kawasan pusat kota lama Bandung sebagai tujuan pariwisata berbasis jalan kaki Bandung. Apa itu Kota Lama Bandung? Saya tidak tahu, karena saya belum lahir saat peletakkan batu pertamanya. Tapi Bandung bermula dari Jalan Raya Pos, yang dibangun Om Daendels. Mungkin kita lebih mengenalnya, Jalan Anyer-Panarukan. Oke sejarah Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) ini silakan cari sendiri, panjang, cukup kelam dan tragis 😦 Bahkan teman saya mencoba napak tilas dengan berjalan kaki dari Bandung menelusuri jalan lama ini hingga Bogor, gila.

Dari jalan tersebut yang (sekarang) melewati daerah Asia-Afrika, Braga, Bandung era kolonial berkembang ke arah utara di Dago. Bandung sendiri katanya “laboratorium arsitektur” karena banyak ragam langgam gedung, sebelum dibongkar. Menarik dilihat dan dicari tahu nanti? Saya habiskan dahulu waktu di acara tersebut, ini ada beberapa potongan pameran yang saya abadikan seadanya.

IMG_20151031_152721 IMG_20151031_152504 IMG_20151031_152405Setelah dari acara tersebut, saya bergerak ke arah timur jalan Asia-Afrika, berjalan kaki. Saya putuskan tujuan saya adalah Dago, nostalgia kolonial. Mengamati kota yang bergerak cepat, tapi lambat kalau di kendaraan. Saya seperti puas menertawai kemacetan, karena sekarang saya jalan kaki. Tapi kalau saya di kendaraan, mungkin saya frustrasi. Ya sepertinya orang kota emosian itu karena faktor di jalanan. Semua jadi berlomba ingin cepat-cepat, karena frustrasi di jalan. Bahaya, nanti imbasnya bisa kemana-mana, ke lingkungan dan sekitarnya jadi luapan emosi.

IMG_20151031_153117 IMG_20151031_153430 IMG_20151031_145113 IMG_20151031_144753 IMG_20151031_145511 IMG_20151031_145514

Ohya sialan, kabel di jalan ini ruwet ternyata. Saya jadi ingat beberapa waktu lalu saya diskusi ngawur dengan teman-teman @suaraninja, kita mencoba ala-ala Designthinking tentang tiang listrik. Intinya masalah tiang listrik itu visualnya, tidak enak dipandang. Jadi tiang listrik disembunyikan di bawah tanah? Kalau kata kita, tidak, itu kemahalan dan dari awal harusnya. Jadi tiang listrik harus dipugar visualnya, mungkin dijadikan sesuatu yang ‘bukan’ tiang listrik, jadi pohon mungkin? Kita berandai tiang listrik itu adalah medium tumbuh tanaman juga, jadi tiang-tiang beton dan besi itu ke depannya diganti dengan tiang yang ada medium tanam. Jadi selain tiang dia adalah ‘batang’, dia ada fitur kapilaritas, hingga diatas/sampingnya tumbuh tanaman. Baiklah ini asal saja dan ngawur.

Akhirnya sampai juga di persimpangan Cikapayang-Dago, setelah melewati segala marabahaya kemacetan. Saya sejenak disini, titik kota yang tak pernah saya amati. Ternyata luas sekali di bawah jalan layang ini yang tak pernah lelah menopang kendaraan, saya doakan semoga dia kuat dan tidak rubuh. Dibawah sini adalah pameran seni di jalanan, karena banyak pesan dan ‘puisi’ disini.

cropped
Puisi Ada di Jalan

IMG_20151031_164734 IMG_20151031_165113 IMG_20151031_164712 IMG_20151031_164651

Ternyata seru juga mengamati kota sambil berjalan. Harus dilakukan sering-sering ini. Karena kota sudah terlalu luas, dan (katanya) kota akan menjadi pintar (smartcity). Sebelum menjadi lebih dari itu, dia harus kita kenali kembali. Banyak kan sesuatu yang ‘pintar’ itu justru memperdaya kita. Contohnya kita harus mengenal “ponsel pintar” kita, fiturnya apa, kekurangan dan kelebihannya apa, baru bisa kita gunakan maksimal. Kalau tidak, justru sia-sia kan?

Melamun di jalan kala itu, melihat gedung-gedung yang indah. Saya ingat suatu proyek waktu di Labtekindie. Kita membuat pembuktian ide bagaimana melestarikan gedung tua di Bandung dalam bentuk cerita interaktif. Ini hasil kerjasama juga dengan Komunitas Bandung Heritage. Idenya ada sebuah aplikasi berbentuk narasi cerita, tiap cerita itu akan mengarahkan kita ke cerita lain. Menariknya, semua berdasar latar belakang gedung. Tiap perpindahan cerita memaksa kita berpindah tempat. Kita sendiri yang memilih alur cerita berikutnya ke tempat apa. Sambil berpindah tempat, ada informasi sejarah yang diselipkan dalam cerita dan halaman khusus mengenai trivia gedung tersebut. Lalu cerita tersebut hanya bisa kita akses dari ‘tanda’ yang ada di gedung itu, bisa sebuah QR Code atau geotag, saat kita benar-benar ada disana. Ah seru, tapi tidak dikembangkan lanjut, hanya purwarupa, penasaran?

Tulisan ini sangat mungkin jadi panjang atau berseri layaknya serial silat cina. Karena ternyata kota itu banyak cerita, apa yang saya lihat, rasakan dan temui, memberi banyak cerita baru dan belum semua terjamah. Tapi tak usah lah, saya tidak sedang stripping tulisan. Silakan Anda rasakan sendiri lingkungan sekitar Anda. Hiburan tak perlu mahal, bahkan cukup berjalan kaki dan melihat sekitar. Manusia dan kehidupannya memang lucu 🙂


Bandung,

31 Oktober 2015

Advertisements
Piknik Urban : Tamasya Kota

2 thoughts on “Piknik Urban : Tamasya Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s