Aruna : Sebuah Pentas Tanpa Nama

Ini merupakan salinan dari artikel serupa disini. Tapi tulisan di post saya ini berbeda ‘rasa’ kok..haha

Aruna, sebuah nama untuk piranti yang sedang saya dan teman-teman Idebeda kembangkan. Piranti ini sebenarnya bukan barang aneh, tapi kok orang-orang masih melihatnya aneh ? Sekilas saja, sudah biasa melihat papan tulis kan ? Lalu pernah melihat papan tulis digital ?

Papan Tulis Digital

Menarik bukan, bila kita bisa menulis di papan tanpa terkena polutan kapur dan aroma spidol ‘Snowman’. Bila kita bisa mengatur cursor komputer dengan alat mirip ‘spidol’, bila kita dapat menggantikan mouse dengan ‘spidol’ di layar. Dunia teknologi sudah tidak aneh dengan benda ini. Dunia pendidikan mestinya juga paham betul, kalau masih mengacu kurikulum ‘pendidikan berbasis IT’. Itulah yang salah menurut kami dalam perjodohan dunia pendidikan dan teknologi. Semestinya kurikulum ‘IT berbasis pendidikan’ yang lebih tepat. Nah, kami ingin ‘mendefinisikan ulang’ alat ini agar bisa dimanfaatkan dalam pengajaran di kelas maupun interaksi guru dan siswa.

Untuk daripada hal itu yang telah disebutkan, kami berkunjung ke almamater sekolah kami di Cirebon, SMA Negeri 1 Cirebon, membawa teknologi ini. Ada dua hal kenapa kami berkunjung kesana ? Pertama, kami butuh mencari tahu kebutuhan pengajar terhadap teknologi itu seperti apa. Kita tidak bisa terus memaksa ‘technology push’ jika manusianya sendiri belum siap. Teknologi yang harus ‘turun’ ke penggunanya. Kedua, kami merasa harus berbakti pada almamater kami. Di sana kami mendemonstrasikan penggunaan teknologi ini untuk dimanfaatkan dalam pengajaran di kelas. Penggunaan powerpoint di kelas yang biasanya membosankan, guru berbicara menghadap layar dan siswa terkantuk di belakang meja. Kami tunjukkan cara penggunaan lainnya, dengan lebih interaktif.

Selain itu, kami tunjukkan penggunaannya dalam memahami bidang 3D dan mendesain, dengan aplikasi ‘Sketch Up!’ yang digerakkan dengan alat ini. Selanjutnya, kami tunjukkan pengajaran Geografi yang interaktif dengan membuka ‘Google Map’ melalui ‘spidol digital’ tersebut. Tidak hanya itu saja, kreativitas guru juga bisa dikembangkan sesuai mata pelajaran yang diajarkan. Ada banyak aplikasi/program yang membantu pengajaran dapat disampaikan interaktif dengan alat ini.

Respon awal guru-guru tersebut umumnya adalah “Wah, ternyata bisa begitu”, “Enak ya”, “Terus bisa apa lagi ?”. Kata seorang guru, bahkan guru yang ‘gaptek’ juga merasa mudah untuk menggunakannya. Beberapa mulai dengan kata “Mengapa butuh alat ini ?”, lainnya berkata “Bisa apa alat ini?”. Nah, kami lebih butuh jawaban dari “Mengapa” lalu “Bisa apa”, hal itu yang kami dapatkan dalam kunjungan. Pertama, hampir semua sekolah RSBI memiliki proyektor tapi kurang interaktif, guru juga butuh kemudahan, pengajaran juga butuh kemudahan agar ilmu cepat diserap, anak didik butuh ‘visualisasi’ yang tidak bisa disediakan papan tulis biasa. Kedua, guru bisa menulis layaknya di papan tulis biasa, hasil catatan papan tulis bisa diarsipkan, murid dapat memperhatikan dengan jelas, murid dapat membuka kembali catatan papan tulis yang lampau. Itulah sedikit gambaran kunjungan ke SMAN 1 Cirebon.

Lalu saat kami berkesempatan mengisi pameran IEC 2013 April lalu di Jakarta, kami juga membawa alat ini. Meskipun pengunjung disini mayoritas orang ‘kota metropolitan’, mereka juga masih ‘kaget’. Banyak orang menanyakan bagaimana cara kerja alat ini, hampir semua orang yang datang ke bilik pameran kami penasaran ingin mencoba alat ini.

Expo IEC

Sebenarnya pada pameran ini, kami tidak membawa alat ini sebagai aktor utama. Tetapi Keybozz dan membawa Embozz sebagai produk yang sudah rilis publik. Namun justru Aruna ini yang mencuri perhatian, kelihatannya hampir semua panitia pameran yang ada di area telah mencoba alat ini..haha.

Pada saat pameran ada seseorang dari pemilik lembaga pendidikan privat, sangat berharap alat ini cepat selesai. Padahal mungkin sudah banyak alat seperti ini diluar sana, tapi memang mungkin tidak ‘manusiawi’. Akhirnya teknologi itu tidak sampai digunakan dengan baik. Kami juga berdiskusi dengan banyak ‘jenis’ orang mengenai cara menggunakan alat ini dan potensi menggunakannya untuk apa saja. Tetapi tetap saja, mereka sendiri belum terpikirkan harus seperti apa.

“They know nothing from what they don’t know yet” – @ans4175

Teknologi harus terlihat canggih dulu, padahal kebutuhannya apa baru akan dicari. Nah, kami bertugas untuk mempertemukan kebutuhan manusia dengan teknologi. Selain itu kami mencari masalah manusia lalu kami bantu dengan solusi teknologi jika memungkinkan. Pengembangan alat ini oleh kami, lebih diutamakan untuk memudahkan penggunaanya dengan kami ‘mengetahui’ kebutuhan orang lain lebih dari mereka ‘mengetahui’ kebutuhan mereka sendiri.

Advertisements
Aruna : Sebuah Pentas Tanpa Nama

One thought on “Aruna : Sebuah Pentas Tanpa Nama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s