Perjalanan Lapangan Bertemu ‘Kepompong Gendut’

Pada hari Kamis pagi yang semoga diberkahi Tuhan Yang Maha Ada, tanggal 15 Jumadil Akhir 1434 H / 25 April 2013 kalau yang tidak tahu kalender hijriah, saya mendapat kesempatan berkunjung ke sebuah Production House (selanjutnya disebut pihak PH). Kegiatan ini bukan tanpa tujuan, ini field trip akhir perkuliahan Creativity Innovation. Kuliah yang mengharuskan saya menulis artikel-artikel ini. Tujuannya agar kami mengetahui bagaimana cara memproduksi sebuah video iklan secara ‘benar’. PH tersebut terletak di pinggir Jalan Bali Nomor 7, Kota Bandung. Tidak sulit untuk mencari alamat ini, karena untung saja saya masih ingat Bahasa Indonesia, jadi bisa tanya-tanya orang di jalan.  Sesampainya disana, saya kaget !!! Melihat seperti ini,

Jalan Bali Nomor 7

Karena saya teringat berbagai artikel ‘konspirasi’ yang saya baca sewaktu dulu ‘kecil’ (belum berpikiran luas). Ada yang bilang ini perkumpulan rahasia (rahasia kok pakai plang), lalu perkumpulan Masonic (berat ah ini). Tapi saya mah menganut paham Positivisme (bukan filsafatnya Auguste Comte), berpikir positif saja.

Saya lalu masuk, tidak sendiri tapi beramai-ramai bersama teman, tidak sampai sekampus tapi, sekelas saja. Masih tidak tahu ini PH apa, keterangannya Rotary Club sih. Kami dibawa ke lantai atas, rumah yang cukup indah. Lantai atas rumah ini, mirip seperti pengadilan.

kira seperti itu ilustrasinya, karena tak sempat mengambil gambar takut ketahuan

Makin aneh, ini PH apa ? Akhirnya ada orang, ya saya pastikan itu orang yang datang. Dari perawakannya itu adalah wanita berumur 20an akhir, ternyata dia pemilik PH-nya. Dia adalah Sammaria Simanjuntak pemilik PH “Kepompong Gendut”. Apa itu ?

Kepompong Gendut

PH ini ternyata masih indie dan levelnya startup lah gitu. ‘Dapur’ produksinya di rumah ini, di bagian belakang tapi. Namun telah menghasilkan beberapa film, video musik dan iklan. Wah, mantap juga. Kenapa mereka indie ? Katanya, karena ingin menjaga idealisme dalam membuat filmnya.

Sammaria Simanjuntak

Mba Sammaria Simanjuntak (selanjutnya disebut pihak SS) dahulu bekerja sebagai arsitek dan lulusan Arsitektur ITB. Namun itu tidak sesuai passion beliau katanya. Jadi dia keluar dan membuat PH sendiri dan menyutradarai sendiri filmnya. Passion dalam bidang film ini yang membuat Mba SS membuat film dengan independen, cerita diangkat dari pengalaman pribadi, realita sekitar, sehingga industri mungkin juga kurang familiar.

Film-film PH “Kepompong Gendut” ini yang sudah tayang diantaranya “Cin(t)a” dan “Demi Ucok”. Nah, kalau Anda mahasiswa kandang gajah  pasti tahu film “Cin(t)a”. Setting di kampusnya, dengan cerita yang cukup sensitif. Film ini menurut saya cukup berani dengan tema yang rawan begitu, namun bisa dikemas yang menarik penonton muda, terutama mahasiswa yang independen (baca: single).

Nah kalau film “Demi Ucok” ini sudah tayang di bioskop kawan-kawan. Ceritanya juga menarik, dan proses pembuatannya lebih menarik. Ceritanya pembuatan film ini dibiayai dengan sistem crowd funding (baca: patungan). Sistem ini akan sedang nge-tren di Indonesia, kalau diluar sudah ramai itu semisal Kickstarter. Crowd funding Indonesia misalnya Wujudkan. Menariknya, semua orang dapat menyumbang pembuatan film ini dengan berbagai  besar sumbangan. Nah, terus dapet apa yang nyumbang ? Jadi yang nyumbang mendapat suvenir dan kesempatan masang nama di poster film dan credit film. Unik kan, film dengan co-produser lebih dari seratus orang. Ternyata pembiayaan film ini menunggu waktu setahun, baru bisa mulai produksi. Tetapi puas lah itu, berhasil membuat film indie dan masuk bioskop. Tidak cuma berhenti disitu, ternyata “Demi Ucok” ini mendapat penghargaan juga, nominasi dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2012 dan meraih penghargaan juga di Piala Citra 2012 kategori “Pemeran Pembantu Wanita Terbaik”.

Lihat tuh tulisan di dindingya, itu semua adalah co-producer film ini

Oh ya, tujuan kita ke PH ini untuk belajar membuat iklan. Nah, dari mba SS ini sebenarnya bingung mau nunjukkin apa. Kami juga bingung mau tanya apa. Intinya iklan di Indonesia itu masih Hard Sell, bukan jual kekerasan, tapi menampilkan iklan yang blak-blakan jual produk. Sedangkan menurut Mba SS, lebih baik iklan yang subtle / soft selling. Iklan tidak menampilkan blak-blakan produk, tapi brand essence, prinsip dan semangat pembuat produknya. Misal seperti iklan rokok, tidak menampilkan rokok, tapi kesan ini produk yang ‘keren’ begitu lah. Tapi ya konsumen di Indonesia nampaknya belum siap begituan. Nah ini contoh iklan yang dibuat oleh mereka untuk Google Indonesia

Nah dari Mba SS dan PH “Kepompong Gendut” ini saya dapat beberapa insight mengenai perjuangan perusahaan startup, bahkan dalam bidang film. Melakukan sesuatu hal yang sesuai passion itu memang memuaskan, tapi tantangannya juga banyak. Kreativitas dalam keterbatasan dan kerja keras ini mutlak. Hal ini yang membuat menarik. Kalau kita kerja hanya untuk cari duit mah, monyet juga bisa topeng monyet. Tetapi kita juga harus puas dari apa yang kita lakukan. Kalau Anda kerja tapi masih  ngedumel(menggerutu), coba pikirkan lagi tujuan Anda. Oke, sekian perjumpaan pena kita kali ini. Sampai jumpa pada tulisan yang akan datang. Salam sehat selalu !

Advertisements
Perjalanan Lapangan Bertemu ‘Kepompong Gendut’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s