Panggung Taraksa : Lembah Gulita hingga Lepas Pantai Udara

Mungkin memang sebaiknya aku tidak mencintaimu terlalu banyak.
Karena kau bisa pergi kapan saja.
Atom bergetar dengan empat ratus kali kecepatan suara tidak akan terbendung oleh beberapa kata manis dalam petualangan satu hari.
Sebelum kusadari, lagi lagi belantara yang kita telusuri terbakar gemeretuk sepi.
Karena aku, kamu dan bumi.
Senantiasa berperang bersama langit malam.

Hari Rabu di kalender masehi 27 Februari kalau tak salah 2013 di Teater Tertutup Dago Tea House, saya, teman, dan temannya teman menjadi saksi sebuah teater yang katanya namanya, Teater EPIK Vol. 5, dengan judul “Taraksa”. Ini teater kedua yang saya tonton, terakhir kali menonton teater puisi Putu Wijaya yang lupa judulnya apa. Teater ini katanya berbeda dari biasanya, katanya ini dikemas dengan ‘berani’. Teater ini diprakarsai oleh teman-teman dari SBM ITB. Kalau mau lebih tahu tentang sejarah Teater EPIK bisa lihat disini dan disana, tulisan dari produser Teater EPIK Vol 5. Teater EPIK ini katanya sebuah wadah untuk penggiat seni teater yang terdiri dari mahasiswa dan siswa sekolah yang ada di Bandung (ITB, UNPAR, ITENAS, UNISBA, UNPAD, UPI, IT Telkom, SMAN 1, SMAN 15, SMAN 19).

Taraksa dalam Tiket dan Booklet
Taraksa dalam Tiket dan Booklet

Teater Epik

Hal pertama yang saya rasakan saat menginjak atmosfer Teater Dago Tea House adalah, ramai sekali. Nampaknya animo pengunjung yang tinggi ini membuat ekspektasi saya juga meninggi, pasti ini sangat menarik. Saat kita masih diluar teater juga, atmosfir telah dibangun dengan wara-wiri para pemeran, mungkin figuran, yang berbaur bersama penonton. Katanya juga teater kali ini mendobrak kebiasaan teater pada umumnya. Sebelumnya saya juga pernah menonton teater puisi Putu Wijaya, dan itu sangat ‘serius’ dalam hal dialog dan peran. Taraksa ini katanya menerjemahkan cerita dalam bahasa gerak, tata panggung, musik, dan dialog serta melalui ilustrasi, strategi promosi, juga adanya aksesoris yang diperjual belikan.

Berbaur dengan Penonton

Cerita Taraksa ini merupakan sebuah legenda yang terlupa. Kisah tentang pemuda yang pergi menuju langit untuk menjemput wanita yang dicintainya, Chiandra. Taraksa ditinggalkan sebuah penyesalan atas kepergian Chiandra, karena tidak menyambut ajakan tarian saat Chiandra masih bersamanya. Penyesalan karena tidak memperjuangkan perempuan pujaannya hingga semua telah pergi dan tiada. Penyesalan itu yang kemudian menjadi energi Taraksa bahwa semuanya belum usai. Atas petunjuk Kepala Desa, Tarpa Ti, Taraksa pun berupaya melakukan perjalanan jauh menuju ujung langit untuk menjemput kembali Chiandra. Lapis demi lapis langit menjadi awal petualangan itu dimulai. Perjalanan dan pertempuran tiap lapis langit ini yang diceritakan dalam teater, ditampilkan dengan apik dan epik. Kisah teater ini bertema cinta, cinta yang tak selalu manis. Pertunjukkan ini memperlihatkan kerisauan dan kerumitan cinta yang disampaikan tanpa kata ‘cinta’ yang tak terdengar selama pentas.

Balu

Taraksa ini diceritakan dengan minim dialog dan penuturan cerita melalui gerak tubuh, suara musik, dan juga artistik dinamis. Penonton pun dijejali berbagai penafsiran dari gerak tubuh mengkespresikan emosi, atau pun aksi pertarungan. Tafsir atas gestur tubuh itu yang menyatakan cerita pun bisa dihadirkan dari berbagai medium, termasuk tubuh. Kemudian batasan panggung pun coba diperluas tidak hanya terbatas pada ‘panggung’ di depan penonton, ada momen pemain pun masuk daerah kursi penonton dan berkejaran. Tempat duduk penonton ditata sedemikian rupa sehingga memberikan efek pada komposisi artistik di langit-langit gedung, serta pantulan suara panggung yang bertujuan  membangun wahana bagi para penonton untuk turut ikut menjadi bagian dari aksi pertunjukan.

Taraksa

Memang Dago Tea House ini tempat yang nyaman dari segi akustik maupun visual. Pandangan penonton sangat jelas, meskipun berada di bagian belakang. Permainan lampu dan visualisasi di langit-langit gedung menghipnotis penonton, mungkin hingga tak mau berkedip kehilangan momennya. Bagi saya sendiri, aransemen musik di Taraksa ini sangat hebat. Musik yang bisa membuat bulu kuduk merinding, musik yang se-frekuensi dengan penonton. Penonton akan merasakan emosi dari musik yang dibangun, sesuai dengan adegan teater. Musik ini mirip seperti ‘Sigur Ros‘. Permainan instrumen dan ketukan drum yang menggugah, lirik yang tanpa semiotik. ‘Vonlenska‘ kalau di Sigur Ros, lirik yang merupakan bahasa tanpa makna. Adegan yang menarik bagi saya diantaranya, saat Taraksa terbaring dengan disorot lampu dan dikitari pemain biola yang bermain sambil menari lincah, lalu adegan saat melawan ‘monster’ setinggi hampir 3 meter, dengan mata menyala, itu sungguh sangat ‘WAH’. Namun, sayang sekali dialog yang minim itu tak terdengar jelas. Kalau saja tidak ada selebaran cerita pada saat masuk, kita mungkin tidak akan menangkap cerita apa yang disajikan.

Chiandra

Pertunjukkan ini memperlihatkan bahwa teater juga terbentuk dari lakon dan musik, bukan dari naskah. Interaksi dengan penonton yang baik, area pentas yang tidak fokus hanya di panggung. Tontonan yang sangat menghibur. Anda harus meluangkan waktu lagi bila ‘Teater Epik’ ini akan mementaskan aksinya di Vol.6.

Perfecto !

Bersama Pemeran yang juga teman
Advertisements
Panggung Taraksa : Lembah Gulita hingga Lepas Pantai Udara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s